Listrik dari Pembangkit Listrik Surya masih lebih mahal saat ini:
Di Amerika Serikat, pembangkit listrik surya dengan photovoltaic memerlukan kira-kira 30 cents USD (atau sekitar Rp. 3000 per KwH) untuk membangkitkan 1 KwH listrik. Dibandingkan dengan biaya listrik dari jaringan yang ada (sekitar 9.5 cents USD per KwH atau Rp. 950 per KwH), listrik tenaga surya sekitar 3 kali lipat lebih mahal daripada listrik dari jaringan yang ada (yang sebagian besar dibangkitkan dengan bahan bakar dari fosil).
Keuntungan Pembangkit Listrik Surya:
Matahari mampu membangkitkan energi sebesar 10.000 kali lipat jumlah energi yang dibutuhkan oleh seluruh dunia selama satu tahun. Jumlah energi sebesar ini belum dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan manusia, karena keterbatasan teknologi. Sampai saat ini, manusia masih sangat tergantung pada sumber energi dari bahan bakar fosil yang selain lebih murah, juga menimbulkan emisi CO2. Ada dua keuntungan dasar dari Tenaga Listrik Surya yang berbasis pada Matahari sebagai bahan bakunya, (1) Matahari setiap hari bersinar sesuai dengan aturan alam, dan (2) Pembangkit Listrik Surya tidak menimbulkan emisi CO2.
Kerugian dari Bahan Bakar Fosil:
Bahan bakar fosil menimbulkan CO2 dalam proses pemanfaatannya (pembakaran). CO2 (Karbon dioksida) sangat berperan dalam masalah pemanasan global atau "global warming". Selain itu, Bahan Bakar Fosil adalah sumber yang tidak terbarukan, dengan demikian apa yang dikuras dan dimanfaatkan hari ini tidak dapat diganti besok.
Keuntungan dari Bahan Bakar Fosil:
Karena jumlah pemakai (demand) yang sedemikian banyak, telah begitu banyak sumber daya (baca uang, manusia dan waktu) yang dikerahkan untuk mendalami teknologi ini. Dengan begitu banyak sumber daya yang dikerahkan, tentu saja teknologi pencarian (Eksplorasi dan Produksi) serta teknologi Pemanfaatan Bahan Bakar Fosil mengalami kemajuan yang sangat pesat sehingga harga Bahan Bakar Fosil menjadi relatif terjangkau untuk semua lapisan masyarakat.
Keuntungan Pembangkit Listrik Tenaga Angin:
Pembangkit Listrik Tenaga Angin saat ini adalah yang paling murah dari semua bentuk energi alternatif. Perkiraan biaya pembangkitan adalah sekitar 5 cents USD per KwH atau sekitar Rp. 500 per KwH. Selain itu, Tenaga Angin juga tidak menimbulkan emisi CO2, mempunyai karakteristik biaya perawatan yang relatif rendah dan juga merupakan sumber energi yang terbarukan.
Sampai saat ini, baru sekitar 1% dari kebutuhan energi seluruh dunia dipasok dari energi angin. Denmark saat ini merupakan world leader dalam pemakaian energi angin, sedang di Amerika Serikat (posisi ke tiga di dunia untuk pemanfaatan energi angin) baru ada sekitar 9.149 MW yang dibangkitkan dari energi angin.
Keuntungan dan Kerugian Pembangkit Listrik Tenaga Air (Hydropower):
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) atau juga dikenal dengan Micro hydro (untuk skala rumah tangga) saat ini memasok kurang lebih 20% dari kebutuhan listrik di seluruh dunia. Di Norwegia, 99% kebutuhan listrik dipasok dari tenaga air. PLTA tidak hanya lebih bersih dan " green ", juga lebih murah dari pada pembangkit listrik dari bahan bakar fosil (batubara, minyak dan gas bumi). Sebagai contoh, pembangkit listrik modern dengan batubara sebagai bahan bakar hanya mampu memakai 50% dari energi yang dihasilkan untuk dirubah menjadi listrik. Sedang PLTA yang modern saat ini mampu merubah 90% dari energi yang dihasilkan menjadi listrik. Biaya listrik yang dihasilkan oleh tenaga air adalah berkisar di angka 2 - 3 cents USD per KwH (atau setara dengan Rp. 200 - 300 per KwH) di AMerika Serikat.
Kerugian dari Pembangkit Listrik Tenaga Air adalah memerlukan tempat yang sangat besar (bendungan). Dampak negatif dapat dirasakan pada perubahan ekosistem (tumbuhan, binatang, penduduk sekitar) serta perubahan kualitas air (kandungan oksigen terlarut yang lebih rendah). Saat ini, tidak banyak lagi sumber daya yang dikerahkan untuk melakukan modernisasi teknologi di bidang Pembangkit Listrik Tenaga Air.